Minggu, 22 Mei 2011

Ngentot Dengan Istri Teman Kostku

Cerita Sex ini
diawali dari aku yang bekerja di
kota jakarta dan kota
metropolitan. Meskipun aku
bekerja di Jakarta dan digaji
besar, aku lebih suka tinggal di
perkampungan. Nah inilah yang
menyebabkan aku bisa
mengisahkan cerita seks dan
cerita sex ku disini. Mulai dari
Kosku berada di wilayah Jakarta
Selatan dekat perbatasan
Tangerang. Lokasinya yang
nyaman dan tenang, jau dari
hiruk pikuk kota, membuatku
betah tinggal lama disini sejak
tahun 2002. Sudah 7 tahun lebih
aku belum pernah pindah.
Tetangga-tetangga pun heran
mengapa aku betah tinggal disitu
padahal bu kostku terkenal
orangnya kolot dan masih
memegang tradisi lama.
Orangnyapun alim dan tidak suka
anak kostnya berbuat macam-
macam dan kalau ketahuan
sudah pasti diusir dari rumah
kostnya.
Rumah kostku 2 lantai yang
disewakan hanya 5 kamar
dengan ukuran sedang dan
kostnya baik untuk putra
maupun putri, yang masih single
maupun yang sudah berkeluarga.
Kamar mandi untuk anak kost
disedakan ada 2 didalam rumah
satu dan yang diluar juga ada.
Ibu koskupun tinggal disitu cuman
tinggaldi kamar sebelah dalam
bersama anak semata
wayangnya Mas Rano.
Kejadian ini terjadi sekitar tahun
2005, Rumah kost hanya terisi
dua satu untukku dan
sebelahnya lagi keluarga Mas
Tarno berasal dari Yogyakarta.
Mas Tarno umurnya 2 tahun
diatasku jadi waktu itu sekitar
26 tahun. Istrinya bernama Nita
seumuran denganku. Nita
orangnya manis putih tinggi
sekitar 165 cm ukuran payudara
sekitar 34-an. Mereka sudah
dikaruniai satu orang anak masih
berumur 2 tahun bernama Rara.
Mas Tarno orangnya
penggangguran. Jadi untuk
keperluan, Nita-lah yang bekerja
dari pagi sampai malam di sebuah
Supermarket terkenal
(supermarket ini sering dikenai
sanksi oleh Komisi Pengawas
Persaingan Usaha lho!!!….hayo
tebak siapa bisa..hahahaha….)
sebagai SPG sebuah produk susu
untuk balita. Karena
keperluannya yang begitu
banyak, Nita (menurut
pengakuannya) sampai meminta
pihak manajemen untuk bisa
bekerja 2 shift.
Tentunya keluarga macam ini
sering cek-cok. Nita
mengganggap Mas Tarno
orangnya pemalas bisanya hanya
minta duit untuk beli rokok.
Padahal jerih payah Nita
seharusnya untuk beli susu buat
Rara putrinya. Mas Tarno pun
sering membalas omelan-omelan
Nita dengan tamparan dan
tendangan bahkan dilakukan
didepan anaknya. Aku sendiri
tidak betah melihat
pertengkaran itu.
Suatusaat, Mas Tarno dapat
pekerjaan sebagai ABK dan
tentunya harus meninggalkan
keluarganya dalam waktu yang
cukup lama. Nita senangnya
bukan main mendengarnya. Akan
tetapi hal itu tidak berlangsung
lama.
Pada malam itu, aku ngobrol
dengan Nita dikamarnya sambil
nonton TV. Si Rara muter-muter
sambil bermain maklum umur
segitu masih lucu-cucunya.
“Sekarang sepi ya, Nit….nggak
ada Mas Tarno.” kataku
“Lebih baik gini, Ted. Enakan kalo
Mas Tarno nggak ada.” Keluh
Nita kepadaku.
“Emangnya Kenapa?” tannyaku.
“Mas Tarno tuh kerja nggak
kerja tetep nyusahin. wajar khan
kaloaku minta duit ke Mas
Tarno? Aku khan istrinya. Eh,
Dianya marah-marah. Besoknya
aku diomelin juga ama ibu
mertuaku. Katanya aku nggak
boleh minta duitnya dulu biar
bisa buat nabung. Gombal!!! Aku
nggak percaya Mas Tarno bisa
nabung!!!” Dia jawab dengan
marah-marah.
“Sabar ya…” Aku mencoba untuk
menenangkannya apalagi Rara
dah minta bobo’.
“Seandainya Mas Tedy yang jadi
suamiku mungkin aku tidak akan
merana. Mas Tedy dah dapat
pekerjaan tetap dan digaji besar
sedangkan suamiku, Mas Tarno
hanya pekerja kasar di kapal
itupun baru sebulan sebelumnya
penggangguran.” Keluhnya.
“Udah…jangan berandai-
andai….biarkan hidup mengalir
saja.” Jawabku sekenanya.
“Mas, …..
Tiba-tiba Nita duduk disebelahku
mengapit tangganku dan
menyandarkan kepalanya. Aku
sungguh terkejut. Aku tahu Nita
butuh kasih sayang, butuh
belaian, butuh perhatian. Bukan
tendangan dan tamparan. Aku
balas dia dengan pelukan di
bahunya. Sayang sekali Wanita
semanis Nita disia-siakan oleh
laki-laki. Tapi Aku juga laki-laki
normal punya nafsu terhadap
wanita. Justru inilah
kesempatanku untuk mengerjai
Nita apalagi ibu kostku
menjengguk keluarganya di
Surabaya selama seminggu dan
baru berangkat kemarin malam
dan Mas Rano dapat jatah kerja
Shift malam di sebuah Mall.
Yuhuyyy…akhirnya kesempatan
itu tiba!!!
Kutoleh Nita yang saat itu
sedang memakai daster, tanpa
basa basi aku langsung
merengkuh tubuh Nita yang
montok itu kedalam pelukanku
dan langsung kucium bibirnya
yang tipis itu. Nita memeluk
tubuhku erat erat, Nita sangat
pandai memainkan lidahnya,
terasa hangat sekali ketika
lidahnya menyelusup diantara
bibirku. Tanganku asyik meremas
susu Nita yang tidak seberapa
besar tapi kencang, pentilnya
kupelintir membuat Nita
memejamkan matanya karena
geli. Dengan sigap aku menarik
daster Nita, dan seperti biasanya
Nitasudah tak mengenakan apa
apa dibalik dasternya itu
ternyata Nita memang sudah
merencanakannya tanpa
sepengetahuanku. Tubuh Nita
benar benar aduhai dan
merangsang seleraku, tubuhnya
semampai, putih dengan susu
yang pas dengan ukuran
tubuhnya ditambah nonok yang
tak berambut mencembung.
“Eh gimana kalo si Rara bangun?”
tanyaku.
“Tenang aja Mas Tedy, Susu
yang diminum Rara tadi dah aku
campurin CTM.” Jawabnya
dengan gaya yang manja. Benar-
benar persiapan yang sempurna.
Ketikakubentangkan bibir
nonoknya, itilnya yang sebesar
biji salak langsung menonjol
keluar. ketika kusentuh dengan
lidahku, Nita langsung menjerit
lirih. Aku langsung mencopot baju
dan celanaku sehingga penisku
yang sepanjang 12 cm langsung
mengangguk angguk bebas.
Ketika kudekatkan penisku ke
wajah Nita, dengan sigap pula
Nita menggenggamnya dan
kemudian mengulumnya. Kulihat
bibir Nita yang tebal itu sampai
membentuk huruf O karena
penisku yang berdiameter 3 cm
itu hampir seluruhnya memadati
bibir mungilnya, Nita sepertinya
sengaja memamerkan kehebatan
kulumannya, karena sambil
mengulum penisku ia berkali kali
melirik kearahku. Aku hanya
dapat menyeringai keenakan
dengan servis Nita ini. Mungkin
posisiku kurang tepat bagi Nita
yang sudah berbaring itu
sementara aku sendiri masih
berdiri disampingnya, maka Nita
melepaskan kulumannya dan
menyuruhku berbaring
disebelahnya. Setelah aku
berbaring dengan agak tergesa
gesa Nita merentangkan kedua
kakiku dan mulai lagi menjilati
bagian peka disekeliling penisku,
mulai dari pelirku, terus naik
keatas sampai keNitang
kencingku semuanya dijilatinya,
bahkan Nita dengan telaten
menjilati Nitang duburku yang
membuat aku benar benar
blingsatan. Aku hanya dapat
meremas remas susu Nita serta
merojok nonoknya dengan jariku.
Aku sudah tak tahan dengan
kelihaian Nita ini, kusuruh dia
berhenti tetapi Nita tak
memperdulikanku malahan ia
makin lincah mengeluar masukkan
peniskukedalam mulutnya yang
hangat itu. Tanpa dapat dicegah
lagi air maniku menyembur keluar
yangdisambut Nita dengan
pijatan pijatan lembut dibatang
penisku seakan akan dia ingin
memeras air maniku agar keluar
sampai tuntas.
Ketika Nita merasa kalau air
maniku sudah habis keluar
semua, dengan pelan pelan dia
melepaskan kulumannya, sambil
tersenyum manis ia melirik
kearahku. Kulihat ditepi bibirnya
ada sisa air maniku yang masih
menempel dibibirnya, sementara
yang lain rupanya sudah habis
ditelan oleh Nita. Nita langsung
berbaring disampingku dan
berbisik “Mas Tedy diam saja ya,
biar saya yang memuaskan
Mas !” Aku tersenyum sambil
menciumi bibirnya yang masih
berlepotan air maniku sendiri itu.
Dengan tubuh telanjang bulat
Nita mulai memijat badanku yang
memang jadi agak loyo juga
setelah tegang untuk beberapa
waktu itu, pijatan Nita benar
benar nyaman, apalagi ketika
tangannya mulai mengurut
penisku yang setengah ngaceng
itu, tanpa dihisap atau diapa
apakan, penisku ngaceng lagi,
mungkin karena memang karena
aku masih kepengen main
beberapa kali lagi maka nafsuku
masih bergelora. Aku juga makin
bernafsu melihat susu Nita yang
pentilnya masih kaku itu, apalagi
ketika kuraba nonoknya
ternyata itilnya juga masih
membengkak menandakan kalau
Nita juga masih bernafsu hanya
saja penampilannya sungguh
kalem .
Melihat penisku yang sudah
tegak itu, Nita langsung
mengangkangi aku dan
menepatkan penisku diantara
bibir nonoknya, kemudian pelan
pelan ia menurunkan pantatnya
sehingga akhirnya penisku habis
ditelan nonoknya itu. Setelah
penisku habis ditelan nonoknya,
Nita bukannya menaik turunkan
pantatnya, dia justru memutar
pantatnya pelan pelan sambil
sesekali ditekan, aku merasakan
ujung penisku menyentuh dinding
empuk yang rupanya leher rahim
Nita. Setiap kali Nita menekan
pantatnya, aku menggelinjang
menahan rasa geli yang sangat
terasa diujung penisku itu.
Putaran pantat Nita
membuktikan kalau Nita memang
jago bersetubuh, penisku
rasanya seperti diremas remas
sambil sekaligus dihisap hisap oleh
dindingnonok Nita. Hebatnya
nonok Nita sama sekali tidak
becek, malahan terasa legit
sekali, seolah olah Nita sama
sekali tak terangsang oleh
permainan ini. Padahal aku yakin
seyakin yakinnya bahwa Nita
juga sangat bernafsu, karena
kulihat dari wajahnya yang
memerah, serta susu dan itilnya
yang mengeras seperti batu itu.
Aku makin lama makin tak tahan
dengan gerakan Nita itu,
kudorong ia kesamping sehingga
aku dapat menindihinya tanpa
perlu melepaskan jepitan
nonoknya. Begitu posisiku sudah
diatas, langsung kutarik penisku
dan kutekan sedalam dalamnya
memasuki nonok Nita. Nita
menggigit bibirnya sambil
memejamkan mata, kakinya
diangkat tinggi tinggi serta
sekaligus dipentangnya pahanya
lebar lebar sehingga penisku
berhasil masuk kebagian yang
paling dalam dari nonok Nita.
Rojokanku sudah mulai tak
teratur karena aku menahan
rasa geli yang sudah memenuhi
ujung penisku, sementara Nita
sendiri sudah merintih rintih
sambil menggigiti pundakku.
Mulutku menciumi susu Nita dan
menghisap pentilnya yang kaku
itu, ketika Nita memintaku untuk
menggigiti susunya, tanpa pikir
panjang aku mulai menggigit
daging empuk itu dengan penuh
gairah, Nita makin keras merintih
rintih, kepalaku yang menempel
disusunya ditekan keras keras
membuatku tak bisa bernafas
lagi, saat itulah tanpa permisi lagi
kurasakan nonok Nitamengejang
dan menyemprotkan cairan
hangat membasahi seluruh
batang penisku.
Ketika aku mau menarik
pantatku untuk memompa
nonoknya, Nita dengan keras
menahan pantatku agar terus
menusuk bagian yang paling
dalam dari nonoknya sementara
pantatnya bergoyang terus
diatas ranjang merasakan sisa
sisa kenikmatannya. Dengan
suara agak gemetar merasakan
kenikmatannya, Nita menanyaiku
apakah aku sudah keluar, ketika
aku menggelengkan kepala, Nita
menyuruhku mencabut penisku.
Ketika penisku kucabut, Nita
langsung menjilati penisku
sehingga cairan lendir yang
berkumpul disitu menjadi bersih.
Penisku saat itu warnanya sudah
merah padam dengan gagahnya
tegas keatas dengan urat
uratnya yang melingkar lingkar
disekeliling batang penisnya. Nita
sesekali menjilati ujung penisku
dan juga buah pelirku. Ketika
Nita melihat penisku sudah bersih
dari lendir yang membuat licin
itu, dia kembali menyuruhku
memasukkan penisku, tetapi kali
ini Nita yang menuntun penisku
bukannya keNitang nonoknya
melainkan keNitang duburnya
yang sempit itu. Aku menggigit
bibirku merasakan sempit serta
hangatnya Nitang dubur Nita,
ketika penisku sudah menyelusup
masuk sampai kepangkalnya, Nita
menyuruhku memaju mundurkan
penisku, aku mulai menggerakkan
penisku pelan pelan sekali.
Kurasakanbetapa ketatnya
dinding dubur Nita menjepit
batang penisku itu, terasa
menjalar diseluruh batangnya
bahkan terus menjalar sampai
keujung kakiku. Benar benar
rasa nikmat yang luar biasa,
baru beberapa kali aku
menggerakkan penisku, aku
menghentikannya karena aku
kuatir kalau air maniku
memancar, rasanya sayang sekali
jika kenikmatanitu harus segera
lenyap. Nita menggigit pundakku
ketika aku menghentikan
gerakanku itu, ia mendesah
minta agar aku meneruskan
permainanku. Setelah kurasa
agak tenang, aku mulai lagi
menggerakkan penisku
menyelusuri dinding dubur Nita
itu, dasar sudah lama menahan
rasa geli, tanpa dikomando lagi
air maniku tiba tiba memancar
dengan derasnya, aku melenguh
keras sekali sementara Nita juga
mencengkeram pundakku.
Aku jadi loyo setelah dua kali
memuntahkan air mani yang aku
yakin pasti sangat banyak.
Tanpa tenaga lagi aku terguling
disamping tubuh Nita, kulihat
penisku yang masih setengah
ngaceng itu berkilat oleh lendir
yang membasahinya. Nita
langsung bangun dari tempat
tidur, dengan telanjang bulat ia
keluar mengambil air dan
dibersihkannya penisku itu, aku
tahu kali ini dia tak mau
membersihkannya dengan lidah
karena mungkin dia kuatir kalau
ada kotorannya yang melekat.
Setelah itu, disuruhnya aku
telungkup agar memudahkan dia
memijatku, aku jadi tertidur,
disamping karena memang lelah,
pijatan Nita benar benar enak,
sambil memijat sesekali dia
menggigiti punggungku dan
pantatku. Aku benar benar puas
menghadapi perempuan satu ini.
Aku tertidur cukup lama, ketika
terbangun badanku terasa segar
sekali,karena selama aku tidur
tadi Nita terus memijit tubuhku.
Ketika aku membalikkan tubuhku,
ternyataNita masih saja
telanjang bulat, penisku mulai
ngaceng lagi melihat tubuh Nita
yang sintal itu, tanganku meraih
susunya dan kuremas dengan
penuh gairah, Nitapun mulai
meremas remas penisku yang
tegang itu.
“Yuk kita ke kamar mandi”
ajakku
“Sapa takut…..”
Aku menarik tangan Nita keluar
kamar sambil bugil tapi aku
sempatkan menyambar 2 buah
handuk kemudian berjalan
mengendap masuk , takut
ketahuan tetangga sebelah
rumah dan mengunci pintu kamar
mandinya dari dalam.
”Nit…kamu seksi banget..”
desisku sambil lebih
mendekatinya, dan langsung
mencium bibirnya yang ranum.
Nita membalas ciumanku dengan
penuh gairah, dan aku
mendorong tubuhnya ke dinding
kamar mandi.
Tangankumembekap dadanya
dan memainkan putingnya. Nita
mendesah pelan. Ia menciumku
makin dalam. Kujilati putingnya
yang mengeras dan ia melenguh
nikmat. Aku ingat, pacarku paling
suka kalau aku berlama-lama di
putingnya. Tapi kali ini tidak ada
waktu, karena sudah menjelang
pagi. Nita mengusap biji pelirku.
Kunaikan tubuh Nita ke bak
mandi. Kuciumi perutnya dan
kubuka pahanya.
Bulu kemaluannya rapi sekali.
Kujilati liangnya dengan nikmat,
sudah sangat basah sekali. ia
mengelinjang dan kulihat dari
cermin, ia meraba putingnya
sendiri, dan memilin-milinnya
dengan kuat.
Kumasukan dua jari tanganku ke
dalam liangnya, dan ia menjerit
tertahan. Ia tersenyum padaku,
tampak sangat menyukai apa yg
kulakukan. Jari telunjuk dan
tengahku menyolok-nyolok ke
dalam liangnya, dan jempolku
meraba-raba kasar klitorisnya. Ia
makinmembuka pahanya,
membiarkan aku melakukan
dengan leluasa. Semakin aku
cepat menggosok klitorisnya,
semakin keras desahannya.
Sampai-sampai aku khawatir
akan tetangga sebelah rumah
dengar karena dinding kamar
mandi bersebelahan tepat
dengan dinding rumha tetangga.
Lalu tiba-tiba ia meraih kepalaku,
dan seperti menyuruhku menjilati
liangnya.
” Ahhh…ahhh….Mas…
Arghhhh..uhhh….Maaasss….” ia
mendesah-desah girang ketika
lidahku menekan klitorisnya
kuat2. Dan jari-jariku makin
mengocok liangnya. Semenit
kemudian, Nita benar-benar
orgasme, dan membuat mulutku
basah kuyub dengan cairannya.
Ia tersenyum lalu mengambil
jari2ku yang basah dan
menjilatinya sendiri dengan
nikmat.
Ia lalu mendorongku duduk di
atas toilet yg tertutup, Ia duduk
bersimpuh dan mengulum penisku
yang belum tegak benar. Jari-
jarinya dengan lihay mengusap-
ngusap bijiku dan sesekali
menjilatnya. Baru sebentar saja,
aku merasa akan keluar. Jilatan
dan isapannya sangat kuat,
memberikan sensasi aneh antara
ngilu dan nikmat. Nita melepaskan
pagutannya, danlangsung duduk
di atas pangkuanku.
Iabergerak- gerak sendiri
mengocok penisku dengan penuh
gairah. Dadanya naik turun
dengan cepat, dan sesekali
kucubit putingnya dengan keras.
Ia tampak sangat menyukai
sedikit kekerasan. Maka dari itu,
aku memutuskan untuk berdiri
dan mengangkat tubuhnya
sehingga sekarang posisiku
berdiri, dengan kakinya
melingkar di pinggangku.
Kupegang pantatnya yang berisi
dan mulai kukocok dengan kasar.
Nita tampak sangat
menyukainya. Ia mendesah-desah
tertahan dan mendorong
kepalaku ke dadanya. Karena
gemas, kugigit dengan agak
keras putingnya. Ia melenguh ,”
Oh…gitu Mas..gigit seperti itu…
aghhh…”
Kugigit dengan lebih keras puting
kirinya, dan kurasakan asin
sedikit di lidahku. Tapi tampaknya
Nitamakin terangsang.Penisku
terus memompa liangnya dengan
cepat, dan kurasakan liangnya
semakin menyempit…
Penisku keluar masuk liangnya
dengan lebih cepat, dan tiba-tiba
mata Nita merem melek, dan ia
semakin menggila, lenguhan dan
desahannya semakin kencang
hingga aku harus menutup
mulutnya dengan sebelah
tangannku.
”Ah Maass…Ehmm… Arghh…
Arghhh…Ohhhhh uhhhhhh…” Nita
orgasme untuk kesekian kalinya
dan terkulai ke bahuku.
Karenaaku masih belum keluar,
aku mencabut penisku dari
liangnya yang banjir cairannya,
dan membalikan tubuhnya
menghadap toilet. Biasa kalau
habis minum staminaku memang
suka lebih gila. Nita tampak
mengerti maksudku, ia
menunggingkan pantatnya, dan
langsung kutusuk penisku ke
liangnya dari belakang. Ia
mengeram senang, dan aku bisa
melihat seluruh tubuhnya dari
cermin di depan kami. Ia tampak
terangsang, seksi dan acak-
acakan.
Aku mulai memompa liangnya
dengan pelan, lalu makin cepat,
dan tangan kiriku meraih puting
payudaranya, dan memilinnya
dengan kasar, sementara tangan
kanankusesekali menepuk keras
pantatnya. Penisku makin cepat
menusuk2 liangnya yang semakin
lama semakin terasa licin.
Tanganku berpindah-pindah,
kadang mengusap-ngusap
klitorisnya dengan cepat.
BadanNita naik turun sesuai
irama kocokanku, dan penisku
semakin tegang dan terus
menghantam liangnya dari
belakang. Ia mau orgasme lagi,
rupanya, karena wajahnya
menegang dan ia mengarahkan
tanganku mengusap klitorisnya
dengan lebih cepat.
Peniskuterasa makin becek oleh
cairan liangnya.
“Nita..aku juga mau keluar nih….”
” oh tahan dulu…kasih
aku….penismu….tahan!!!!
“Nita langsung membalikan
tubuhnya, dan mencaplok
penisku dengan rakus. Ia
mengulumnya naik turun dengan
cepat seperti permen, dan dalam
itungan detik, menyemprotlah
cairan maniku ke dalam mulutnya.
”ArGGGhhhh!! Oh yes !! ” erangku
tertahan.
Nitamenyedot penisku dengan
nikmat, menyisakan sedikit rasa
ngilu pada ujung penisku, tapi ia
tidak peduli, tangan kirinya
menekan pelirku dan kanannya
mengocok penisku dengan
gerakan makin pelan. Kakiku
lemas dan aku terduduk di kursi
toilet yg tertutup. Nita berlutut
dan menjilati seluruh penisku
dengan rakus.
Setelah Nita menjilat bersih
penisku, ia memakaikan
handukku, lalu memakai
handuknya sendiri. Ia memberi
isyarat agar aku tidak bersuara,
lalu perlahan-lahan membuka
pintu kamar mandi. Setelah yakin
aman, ia keluar dan aku
mengikutinya dari belakang.
Setelah kejadian itu aku sama
Nita semakin gila-gilaan dalam
bermain seks sampai dengan ibu
kosku kembali dari Surabaya
tentunya aku hanya bisa
melakukannya di malam hari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar